Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Sosial Media : Tempat Menghakimi Tanpa Mengetahui

Sosial Media : Tempat Menghakimi Tanpa Mengetahui - Sosial media salah satu tanda kemajuan zaman yang mempengaruhi kehidupan manusia. 

Kita bisa berinteraksi dengan orang lain tanpa harus bertemu langsung. Bahkan kita bisa kenalan dan berinteraksi dengan orang yang bukan kita kenal sebelumnya.

Sosial Media : Tempat Menghakimi Tanpa Mengetahui

 

Berbeda dengan zaman dahulu, HP sangat jarang. Ada telepon rumah atau wartel (warung telepon) yang mana kita bisa berbicara dengan orang lain diluar daerah. 

Tapi sekarang beda lagi. Kita bisa komunikasi dengan melihat wajah lawan bicara kita. Bahkan acara seminar pun bisa dengan cara demikian, biasa dikenal dengan webinar.

Dan dengan sosial media adakalanya orang lain menghakimi orang lain tanpa mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.

Begitu mudahnya kita membagikan tautan, video, foto yang mana aslinya belum jelas kebenarannya. Tapi dengan tanpa alasan yang jelas membagikan ulang postingan orang lain.

Efeknya adalah hoax yang terus berkembang. Yang tanpa sadar kitalah yang membagikan hoax tersebut. 

Kadang hal yang sudah jelas hoax pun dibagikan ulang. Misalnya paku bumi yang di bawah truk kontainer besar. Kemudian difotolah dan dibagikan dengan caption "truk membawa rudal siap untuk perang". Entah ini niat bercanda atau tidak tapi kadang efeknya malah jadi hoax.

Dan ada orang yang belum paham tentang paku bumi ini membagikan secara serius ke group sosial media. Dan begitu seterusnya sampai muncul hoax yang terus berkembang. 

Ya begitulah salah satu contoh bagaimana hoax tercipta. Atau juga bisa berdasarkan postingan teman sosial media kita bisa menghakiminya.

Misalnya saja, ketika ada teman yang upload isi postingan yang glamor kita akan menghakimi bahwa dia orang kaya. Padahal aslinya orang tersebut glamour. 

Ada yang posting tentang hal yang berbau agama atau religi maka kita akan menghakimi orang tersebut alim dan soleh. Padahal belum tentu juga.

Enak sekali ya, posting hal religi langsung bisa disebut ustadz atau ustadzah. Padahal untuk menjadi ustadzah atau ustadz tidak cukup dengan hal demikian.

Kalau post religi dengan niat baik bagaimana ? Misalnya share tentang dakwah. Boleh saja dan bagus itu. Tapi itu saja belum cukup, jika ingin belajar agama dengan baik dan benar ada baiknya belajar kepada ustadz atau ustadzah secara langsung. Ilmunya dapat barokahnya juga dapat.

Hal yang kadang berbahaya lagi efek belajar agama secara terpotong adalah merasa paling benar sendiri dan mudah menghakimi orang lain. 

Hal ini sebenarnya keliru. Karena kurangnya sebuah ilmu kita tidak bisa seperti itu. Jika kita benar bukan berarti orang lain salah. Mungkin pengetahuan kita yang masih kurang.